Tuesday, 15 March 2016

Anemometer

Anemometer adalah alat pengukur kecepatan angin yang banyak dipakai dalam bidang Meteorologi dan Geofisika atau stasiun prakiraan cuaca. Nama alat ini berasal dari kata Yunani anemos yang berarti angin. Perancang pertama dari alat ini adalah Leon Battista Alberti pada tahun 1450. Selain mengukur kecepatan angin, alat ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin itu.

Anemometer dibedakan menjadi dua yaitu untuk mengukur kecepatan angin dan tekanan angin. Tetapi karena keduanya memiliki hubungan yang sama, maka anemometer dirancang untuk memberikan informasi tentang keduanya.

Velocity Anemometers

Cup Anemometers

Sebuah anemometer sederhana yang diciptakan pada tahun 1846 oleh  Dr John Thomas Romney Robinson dari  Armagh Observatory. Anemometer ini terdiri atas tiga cup setengah lingkaran dan terpasang pada tiap ujung gagang horizontal. Aliran udara melewati masing-masing cup dan memutar masing-masing tiap gagang horizontal berdasarkan angin yang datang. Oleh karena itu, menghitung putaran poros selama periode waktu yang ditetapkan akan menghasilkan kecepatan angin rata-rata. Alat ini biasa digunakan untuk standar industry dalam penilaian studi sumber daya angin.

Windmill Anemometers

Bentuk lain dari anemometer adalah bentuk kincir angina tau baling-baling. Berbentuk panjang vertikal. Dalam kasus di mana arah pergerakkan angin selalu sama, seperti dalam poros ventilasi tambang dan bangunan misalnya, baling-baling angin, yang dikenal sebagai meter air dapat memberikan hasil yang paling memuaskan.

Hot-wire Anemometers

Anemometers kawat panas menggunakan kawat yang sangat halus yang dipanaskan. Udara mengalir melewati kawat memiliki efek pendinginan pada kawat. Hot-wire Anemometer sangat halus, memiliki frekuensi-respon yang sangat tinggi dan resolusi spasial baik dibandingkan dengan metode pengukuran lainnya, dan dengan demikian hampir secara universal digunakan untuk studi rinci arus turbulen.

Laser Doppler Anemometers

Pada anemometer ini menggunakan sinar cahaya dari laser yang yang terbagi menjadi dua balok, dengan satu disebarkan dari anemometer. Partikulat yang mengalir bersama dengan molekul udara dekat tempat keluar balok mencerminkan, atau backscatter, lampu kembali ke detektor, di mana ia diukur relatif terhadap sinar laser asli. Ketika partikel-partikel berada dalam gerakan yang besar, mereka menghasilkan pergeseran Doppler untuk mengukur kecepatan angin di sinar laser, yang digunakan untuk menghitung kecepatan partikel udara di sekitar anemometer.

Sonic Anemometers

Pertama kali dikembangkan pada tahun 1950, menggunakan gelombang suara ultrasonik untuk mengukur kecepatan angin. Mengukur kecepatan angin berdasarkan jam terbang sonic pulses antara pasangan transduser.

Acoustic Resonance Anemometers

Merupakan varian yang lebih baru dari sonic anemometer. Teknologi ini diciptakan oleh Dr Savvas Kapartis dan dipatenkan (Acu-Res ®) oleh FT Teknologi pada tahun 2000. Anemometers sonic konvensional bergantung pada waktu pengukuran penerbangan, sensor resonansi akustik menggunakan beresonansi akustik (ultrasonik).

Ping Pong Ball Anemometers

Dibuat berdasarkan bola ping-pong yang melekat pada string. Ketika angin bertiup, ia menekan dan menggerakan bola, karena bola ping-pong yang sangat ringan, dapat bergerak dengan mudah dengan angin yang kecil. Anemometer ini banyak digunakan untuk diinstruksi pada sekolah tingkat menengah yang sebagian besar siswa membuat dapat membuatnya sendiri.

Pressure Anemometers

Plate Anemometers

Ini adalah anemometer pertama dan hanya piring datar ditempatkan dari atas sehingga angin melewati piring. Pada 1450, seni arsitek Italia Leon Battista Alberti menemukan anemometer mekanis pertama, pada tahun 1664 itu kembali ditemukan oleh Robert Hooke (sering keliru dianggap sebagai penemu pertama anemometer). Digunakan pada tempat-tempat yang tinggi karena berbentuk pelat yang memiliki hasil pengukuran yang baik pada ketinggian yang lebih tinggi.

Tube Anemometer

Anemometer James Lind 1775 terdiri dari kaca tabung berbentuk U yang berisi cairan manometer (pengukur tekanan), dengan salah satu ujung membungkuk dalam arah horizontal untuk menghadapi angin dan ujung vertikal lainnya tetap sejajar dengan aliran angin. Anemometer ini merupakan yang paling praktis dan terkenal. Jika angin bertiup ke dalam mulut tabung itu menyebabkan peningkatan tekanan pada satu sisi manometer. Perubahan cairan yang dihasilkan dalam tabung U merupakan indikasi kecepatan angin.

Sumber : Kompasiana


Friday, 15 January 2016

Jam Digital Seven Segment

Your browser doesn't support the video tag



Seven Segment Display (7 Segment Display) dalam bahasa Indonesia disebut dengan Layar Tujuh Segmen adalah komponen Elektronika yang dapat menampilkan angka desimal melalui kombinasi-kombinasi segmennya. Seven Segment Display pada umumnya dipakai pada Jam Digital, Kalkulator, Penghitung atau Counter Digital, Multimeter Digital dan juga Panel Display Digital seperti pada Microwave Oven ataupun Pengatur Suhu Digital .  Dan sekarang saya akan membuat Jam Digital dari Seven Segment Display.
     Jam Digital adalah suatu alat yang dirancang untuk mengukur waktu. Rangkaian Jam digital menggunakan komponen dan juga program yang disusun sedemikian rupa sehingga proses kerjanya seperti pada jam yang ada di pasaran.



Buat sesuai rangkaian diatas menggunakan arduino uno atau nano. Cukup mudah dengan beberapa komponen berikut:
  1) 6 buah Sevent Segment (CA).
  2) 15 buah NPN Transistor.
  3) 20 buah resistor 1K
  4) DS1307 real time clock IC.
  5) one coin cell battery holder.
  7) 4 Push Button
  8) ATMega328 with arduino bootloader.
  9) Arduino IDE
  10) 7805 voltage regulator.
  11) 16MHz crystal.
  12) 2 buah capasitor 22pF.
  13) IC soket 28 pin.
  14) Capasitor 10 uF
  15) Capasitor 0.1 uF.
  17) IC 4017 counter
  18) 32.768KHz crystal



Setelah dirangkai maka saatnya membuat Coding Arduino.

 http://www.instructables.com/files/orig/FE5/9Z19/GLGCJGTV/FE59Z19GLGCJGTV.txt 

Dari link diatas silahkan ketik atau copas. Jangan lupa masukkan library RTC agar program Jam Digitalmu bekerja dengan baik.

Selamat Berkarya 
Best Regard...


Monday, 11 January 2016

Dokumentasi J-Creator Electronics








Diatas adalah beberapa dokumentasi dalam pengerjaan berbagai alat oleh J-Creator electronics. Masih berantakan belum bisa menata dengan rapi, kedepan akan segera dibuat Dokumentasi beserta penjelasan beberapa alat yang telah dibuat.

Best Regard,
J-Creator Electronics


Friday, 1 January 2016

Pulse Width Modulation (PWM)

Pulse Width Modulation (PWM) merupakan suatu teknik untuk mendapatkan hasil output analog dengan pendekatan secara digital. Teknik PWM ini mengendalikan lebar pulsa berdasarkan modulator. Meski bapat diterapkan dalam penyandian informasi komunikasi, penerapan utamanya lebih pada kendali daya perangkat listrik, semisal motor. Kendali digital digunakan untuk membentuk sebuah gelombang kotak (square wave), sebuah gelombang signal untuk switch antara kondisi on dengan off. Pola kondisi on dan off tersebut merepresentasikan suatu nilai full on pada Arduino (5 volt) dan kondisi off (0 volt) dengan mengubah perbandingan ratio antara waktu kondisi on dengan kondisi off dalam satu periode. Durasi waktu on disebut dengan istilah lebar pulsa, pulse width. Untuk mendapatkan suatu variasi hasil output nilai analog, dapat dilakukan dengan mengubah lebar pulsa tersebut. Perbandingan antara waktu signal on dengan waktu satu periode disebut dengan duty cycle.

Duty Cycle
Duty cycle dapat diartikan sebagai perbandingan antara waktu signal on dengan waktu keseluruhan untuk satu periode. Besarnya nilai duty cycle dinyatakan dalam percent. Nilai duty cycle dapat bervariasi mulai dari 0% tidak ada signal on, hingga 100% tidak ada signal off, atau selalu dalam kondisi signal on.




Sebagai contoh duty cycle 60% dengan durasi 1000 ms. Maka waktu saat signal on ialah 60% dari 1000 ms, yakni 600 ms. Sedangkan untuk waktu signal off ialah selisih antara durasi keseluruhan dengan waktu signal on, yakni 400 ms.

Implementasi
Dengan melakukan pengulangan pola duty cycle tersebut terus-menerus secara cepat pada sebuah LED, dapat digunakan untuk mengatur nyala terangnya. Pengulangan pola duty cycle tersebut seolah-olah membuat LED menyala dengan nilai tegangan yang tetap (steady) antara 0 volt hingga 5 volt. Padahal sebenarnya terjadi kondisi perubahan signal on-off secara cepat. Bila digunakan pada motor DC, semakin besar nilai PWM maka semakin cepat laju putaran motor DC tersebut, dan demikian sebaliknya.
Nilai rata-rata tegangan dan juga arus yang diberikan ke rangkaian beban dikendalikan melalui duty cycle tersebut. Semakin besar duty cycle (semakin lama waktu signal on) maka semakin besar nilai daya yang diberikan ke rangkaian beban.
Penerapan PWM dalam Arduino Uno dapat dilakukan dengan menggunakan analogWrite() dengan nilai antara 0 hingga 255, resolusi ADC 8 bit. Dimana analogWrite(255) memiliki nilai duty cycle 100% atau selalu menyala, analogWrite(127) memiliki nilai duty cycle 50%, dan lain sebagainya. Untuk pin pada board Arduino Uno yang dapat digunakan menghasilkan output PWM ialah pin 3, 5, 6, 9, 10, dan 11.

Best Regard

Monday, 28 December 2015

Membuat Led Matrik


Led Matrik ini dirakit karena vertepatan dengan acara Natal 2015. biar lebih Meriah acara natalnya, Jika ada yang Berminat ingin memasang iklan dengan Led Matrik Ini bisa lohhh Hubungi 085330229547.
Jember Led Matrik

Aiueo

Sunday, 1 November 2015

Membuat Arduino Sendiri

Sudah lama sekali ingin posting tutorial membuat arduino sendiri, karena maraknya dunia Mikrokontroler dengan kehadiran mikrokontroler mungil bernama Arduino. Marilah kita belajar membuat Arduino dengan cara yang cukup mudah. Bagi yang menyukai project mikrokontroller dengan Arduino, tentu sudah tahu dengan istilah ‘bootloader’. Kalau diibaratkan dalam sebuah OS (Operating System), bootloader ini adalah semacam ‘kernel’ sederhana, yakni sekumpulan fungsi dasar yang menangani input output yang berhubungan dengan hardware, dan sekumpulan pustaka dasar yang menjembatani fungsi kompleks yang berjalan di atasnya. Di Arduino, bootloader ini berfungsi untuk menangani proses input output data saat Anda ‘mengisi’ program (istilah dalam Arduino adalah ‘sketch’), ke dalam Arduino melalui software IDE (Integrated Development System) Arduino. Mengisi sketch ke Arduino dengan burning program mikrokontroller (misalnya AVR/ATMega) adalah berbeda pengertiannya.  Jika mengisi sketch adalah mengisi program yang berjalan di atas bootloader, burning program ke mikrokontroller adalah mengisi program yang benar-benar berdiri sendiri tanpa ketergantungan bootloader.  Untuk detail perbedaan keduanya nanti akan saya tulis dalam artikel yang berbeda.

Kembali ke bootloader, jika Anda membeli board Arduino, bootloader sudah terprogram di dalam IC mikrokontroller Arduino (ATmega 8/168/328). Dengan demikian Anda bisa langsung mengisi ‘sketch’ (program Arduino) ke IC mikrokontroller Arduino. IC mikrokontroller yang telah terprogram Arduino ini kemudian dapat dipindah ke PCB lain yang memenuhi system minimum mikrokontroller. Jadi sebenarnya Arduino ini dapat berdiri sendiri tanpa harus dipasang di board Arduino. Nah, saat seperti inilah dibutuhkan pengetahuan untuk melakukan burning bootloader Arduino sendiri ke IC ATMega. Dengan demikian Anda tidak perlu membeli board Arduino lagi, cukup membeli IC ATMega saja yang nantinya akan diisi bootloader Arduino. Berikut ini adalah langkah-langkah mengisi bootloader Arduino menggunakan board Arduino Uno (bisa juga dengan board yang lain). Saya anggap sudah memiliki IDE Arduino terinstal dalam komputer Anda (dapat diunduh di www.arduino.cc) dan sudah familiar dengan burning sketch di board Arduino.

1. Buka IDE Arduino dan loading sketch ‘ArduinoISP’ di menu File | Examples | ArduinoISP.
Catatan untuk pengguna software Arduino 1.0, Anda harus mengubah script ‘delay (40)’ menjadi ‘delay (20)’ di bawah void heartbeat().  Cara mudah untuk mencari script tersebut adalah menggunakan menu Edit | Find atau melalui shortcut ctrl+F. Jika Anda tidak mengganti script tersebut akan muncul error ‘sync error (xxxx)’.

2. Pilih board ‘Arduino Uno’ di menu Tools | Board | Arduino Uno, pilih port serial yang terinstal dalam computer Anda di menu Tools | Serial Port, kemudian upload sketch ‘ArduinoISP’ di board Arduino melalui menu File | Upload. Jika Anda berhasil melakukannya, maka board Arduino Uno Anda sekarang sudah berfungsi board ISP (In System Programming), yakni board yang bisa mengisi program ke mikrokontroller lain melalui port MISO/MOSI

3. Kemudian siapkan IC ATMega 8/168/328 yang akan diisi bootloader Arduino, dan buatlah rangkaian sistem minimum sederhana sebagai berikut (bisa menggunakan breadboard/protoboard atau dijumper di PCB matriks)


4. Kembali ke software IDE Arduino, pilih tipe board yang nantinya akan digunakan IC tersebut di menu Tools | Board. Contoh, jika IC yang akan diburn boatloader ini akan dimasukkan ke board Arduino Uno, maka pilihlah ‘Arduino Uno’ di menu Tools | Board.
Catatan : untuk IC ATMega 8 hanya kompatibel diisi dengan tipe board ‘Arduino NG or older w/ Atmega8’

5. Pilih tipe programmer sebagai ‘Arduino as ISP‘ di ‘Tools | Programmer‘. Mulailah mengisi bootloader ke IC ATMega dengan memilih menu Tools | Burn Bootloader. Tunggu beberapa saat, sampai muncul notifikasi bahwa proses pengisian bootloader sudah selesai di jendela bawah di IDE Arduino.

Selamat, kini IC ATMega Anda yang sebelumnya blank sudah terisi bootloader Arduino. Untuk selanjutnya Anda bisa meletakkan IC ATMega ini ke board Arduino (Uno, Duemilanove, Nano,  dsb sesuai settingan program tadi) atau ke dalam PCB buatan sendiri.

sumber : http://arduino.cc/en/Tutorial/ArduinoISP

Friday, 29 May 2015

Anemometer Arduino dengan Datalogger SD Card

     Prinsip kerja Awal dari anemometer adalah menghitung frekuensi putaran rotor Anemometer,sehingga selanjutnya dari putaran rotor tersebut bisa menghitung kecepatan angin . Penghitung frekuensi (Frequency Counter) digunakan untuk menghitung banyaknya gelombang dalam satu detik, sehingga mempunyai satuan Hz (Hertz).  Pada mikrokontroler Arduino Mega terdapat  port untuk masukan counter 1 (T1) dan terhubung dengan pin 5 Arduino Uno. Pulsa yang akan kita ukur frekuensinya dihubungkan dengan pin 47. Library  frequency counter ini juga telah tersedia, tinggal kita pakai saja.
Rangkaian yang digunakan terdapat pada gambar 1. Yang meupakan rangkaian amplifier yang berfungsi  sebagai penguat sinyal dari frekuensi masukan dari optocopler ataupun rangkaian decoder pembaca detak frekuensi Poros Anemometer.Catatan Kerja  J-Creator Electronic
Anemometer digital
Prinsip kerja Awal dari anemometer adalah menghitung frekuensi putaran rotor Anemometer,sehingga selanjutnya dari putaran rotor tersebut bisa menghitung kecepatan angin . Penghitung frekuensi (Frequency Counter) digunakan untuk menghitung banyaknya gelombang dalam satu detik, sehingga mempunyai satuan Hz (Hertz).  Pada mikrokontroler Arduino Mega terdapat  port untuk masukan counter 1 (T1) dan terhubung dengan pin 47 Arduino Mega. Pulsa yang akan kita ukur frekuensinya dihubungkan dengan pin 47. Library  frequency counter ini juga telah tersedia, tinggal kita pakai saja.
Rangkaian yang digunakan terdapat pada gambar 1. Yang meupakan rangkaian amplifier yang berfungsi  sebagai penguat sinyal dari frekuensi masukan dari optocopler ataupun rangkaian decoder pembaca detak frekuensi Poros Anemometer.




Pulsa yang akan dihitung frekuensinya dihubungkan ke pin F_ in. Sumber pulsa dapat menggunakan piringan dekoder. Piringan Dekoder tersebut terpasang pada  Poros Anemometer, dan terpasang juga rangkaian pembaca dekoder menggunakan Optocoupler yang selanjutnya terhubung ke rangkaian preamplifier sinyal masukan. Piringan Dekoder tersebut berupa Piringan yang terdapat Lubang lubang yang berjumlah 32.yang berfungsi sebagai pendetak frekuensi.Jika rangkaian sensor Mengenai lubang Maka Sensor akan mendeteksi Low, Sebaliknya jika sensor tidak mengenai lubang maka Sensor akan mendeteksi High. Dan kejadian tersebut terjadi berulang selama Rotor Anemometer Berputar, sehingga Menghasilkan pulsa frekuensi dan terbaca oleh Mikrokontroler Arduino sebagai Frejuensi Masukan.dan Jumlah Frekuensi Masukan tiap detiknya dihitung sehingga Menghasilkan nilai Frekuensi dalam Hz. Selanjutnya Nilai frekuensi tersebut di konversi menjadi Nilai RPM dan Kecepatan Angin dalam m/s. Dan di masukkan pada skrip program  RPM = (float)count * (60.0/32.0) ;  selanjutnya ditampilkan pada lcd dengan skrip progam lcd.print(RPM  lcd.print("  "); Selain menampilkan data Frekuensi pada LCD arduino juga memproses data Kecepatan angin ke SD card berupa data logger, dengan adanya datalogger maka setiap pembacaan kecepatan angin akan direcord oleh modul SD card





Berikut adalah sketch Program Anemometer Digital dengan ARDUINO

#include <FreqCount.h>
  #include "LiquidCrystal.h";
 LiquidCrystal lcd(12, 11, 5, 4, 3,2 );
#include <SD.h>
#define LOG_INTERVAL  1000 // mills between entries (reduce to take more/faster data)
#define SYNC_INTERVAL 1000 // mills between calls to flush() - to write data to the card
uint32_t syncTime = 0; // time of last sync()

int Phi = 3.1428571428571428571428571428571;
int JariJari = 1.0;
float frekuensi;
const int chipSelect = 53;
File logfile;
void error(char *str)
{
 lcd.setCursor(0,0);
  lcd.print("PASANG MEMORI..! ");
  lcd.setCursor(1,1);
 lcd.print("LOG DATA GAGAL");
 Serial.println(str);
 digitalWrite(redLEDpin, HIGH);

 while(1);
}
void setup(void)
{
lcd.begin(16, 2);
  // Tulis Temperatur di LCD
  pinMode(redLEDpin, OUTPUT);
  pinMode(buzzer, OUTPUT);
  #if WAIT_TO_START
  Serial.println("Type any character to start");
  while (!Serial.available());
#endif //WAIT_TO_START
Serial.print("Initializing SD card...");
  pinMode(53, OUTPUT);
  if (!SD.begin(chipSelect)) {
    error("Card failed, or not present");
  }
  Serial.println("card initialized.");
  char filename[] = "LOGGER00.CSV";
  for (uint8_t i = 0; i < 100; i++) {
  filename[6] = i/10 + '0';
  filename[7] = i%10 + '0';
  if (! SD.exists(filename)) {
  logfile = SD.open(filename, FILE_WRITE);
  break;  // leave the loop!
  }
  }
  if (! logfile) {
  error("couldnt create file");
  }
  lcd.setCursor(0,0);
  lcd.print("FILE SUKSES: ");
  lcd.setCursor(1,1);
  lcd.println(filename);
   delay(5000);
   lcd.clear();
 logfile.println("Freq >> RPM >> Kecepatan angin");  
#if ECHO_TO_SERIAL
  Serial.println("Freq >> RPM >> Kecepatan angin");
#endif //ECHO_TO_SERIAL

  lcd.print("Freq>>RPM>>Kec");
  FreqCount.begin(1000);
 }
void loop(void)
{
// delay for the amount of time we want between readings
  delay((LOG_INTERVAL -1) - (millis() % LOG_INTERVAL));
  digitalWrite(buzzer, HIGH);
   // fetch the time
     //Pencacahan frekuensi
            if (FreqCount.available())
              {
              unsigned long count = FreqCount.read();
              lcd.setCursor(0, 1);
              lcd.print(count);
              lcd.print("  ");
             
              float RPM;
              lcd.setCursor(5,1);
              RPM = (float)count * (60.0/32.0) ;
              lcd.print(RPM);
              lcd.print("  ");
             
              float KecepatanAngin;
              float RPM2Rad;
              RPM2Rad = ((2.0 * Phi/60.0) * RPM );
              lcd.setCursor(11,1);
              KecepatanAngin = RPM2Rad * JariJari ;
              lcd.print(KecepatanAngin);
              lcd.print("  ");
             
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(count);
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(RPM);
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(KecepatanAngin);

#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.print(" ");  
 Serial.print(count);
   #endif // ECHO_TO_SERIAL
logfile.println();  
 #if ECHO_TO_SERIAL
Serial.println();
#endif //ECHO_TO_SERIAL    
  if ((millis() - syncTime) < SYNC_INTERVAL) return;
  syncTime = millis();
  digitalWrite(redLEDpin, HIGH);
 logfile.flush();
digitalWrite(redLEDpin, LOW);
}

Penjelasan Program:
Awal  program adalah   melakukan inisialisasi konstanta, objek, serta variabel yang diperlukan pada proses eksekusi program serta pin I/O  yang akan digunakan,

#include <FreqCount.h>
#include "LiquidCrystal.h";
#LiquidCrystal lcd(12, 11, 5, 4, 3,2 );
#include <SD.h>
#define LOG_INTERVAL  1000 // mills between entries (reduce to take more/faster data)
#define SYNC_INTERVAL 1000 // mills between calls to flush() - to write data to the card
uint32_t syncTime = 0; // time of last sync()

int Phi = 3.1428571428571428571428571428571;
int JariJari = 1.0;
float frekuensi;
const int chipSelect = 53;
File logfile;

Program akan mendeteksi apakah SD Card sudah dimasukkan pada Socket SD Apabila belum dimasukkan, program akan menampilkan tulisan "PASANG MEMORI...! LOG DATA GAGAL ",  berikut ini merupakan listing programnya :

  void error(char *str)
{
  lcd.setCursor(0,0);
  lcd.print("PASANG MEMORI...! ");
  lcd.setCursor(1,1);
  lcd.print("LOG DATA GAGAL");
  Serial.println(str);

Apabila SD Card sudah dimasukkan, program akan melakukan inisialisasi awal SD Card. Jika proses inisialisasi gagal, maka proses program akan dihentikan. Jika proses inisialisasi berhasil, program akan berlanjut ke langkah 4. berikut ini merupakan listing programnya :

if (! logfile) {
error("couldnt create file");
}
lcd.setCursor(0,0);
lcd.print("FILE SUKSES: ");
lcd.setCursor(1,1);
lcd.println(filename);
delay(5000);
lcd.clear();

Akan membuat file CSV baru pada SD Card untuk keperluan logging data.,berikut ini merupakan listing programnya :

  char filename[] = "LOGGER00.CSV";
  for (uint8_t i = 0; i < 100; i++) {
  filename[6] = i/10 + '0';
  filename[7] = i%10 + '0';
  if (! SD.exists(filename)) {
  // only open a new file if it doesn't exist
  logfile = SD.open(filename, FILE_WRITE);
 break;  // leave the loop!

         Proses penamaan file akan dilakukan mengikuti nomor file terakhir yang terdapat pada SD Card. Apabila nama file terakhir yang ada pada SD Card adalah “LOGGER00”, pada proses ini akan dibuat file baru dengan nama“LOGGER01” dan LCD akan menampilkan “FILE SUKSES LOGGER00.CSV

Proses Menampilkan nilai frekuensi,  konversi ke Nilai RPM dan Kecepatan Angin

if (FreqCount.available())
              {
              unsigned long count = FreqCount.read();
              lcd.setCursor(0, 1);
              lcd.print(count);
              lcd.print("  ");
             
              float RPM;
              lcd.setCursor(5,1);
              RPM = (float)count * (60.0/32.0) ;
              lcd.print(RPM);
              lcd.print("  ");
             
              float KecepatanAngin;
              float RPM2Rad;
              RPM2Rad = ((2.0 * Phi/60.0) * RPM );
              lcd.setCursor(11,1);
              KecepatanAngin = RPM2Rad * JariJari ;
              lcd.print(KecepatanAngin);
              lcd.print("  ");
             
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(count);
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(RPM);
              logfile.print("  ");  
              logfile.print(KecepatanAngin);


Secara garis besar prinsip kerja Anemometer adalah sebagai Berikut. Pada saat baling-baling anemometer mulai terkena angin, maka poros Anemometer secara otomatis akan berputar. Dan Piringan encoder juga berputar.Maka Sensor optocoupler menghasilkan sinyal high low yang diakibatkan hasil perubahan lubang lubang pada encoder.dan mengirim sinyal ke rangkaian preamplifier.dan di kuatkan sehingga Mikrokontroler arduino dapat membaca secara jelas Nilai perubahan tegangan tersebut.
Selanjutnya pencacahan frekuensi tersebut diolah oleh program  arduino dan di tampilkan ke LCD.hasil tampilan tersebut berupa 3 data, yaitu data frekuensi, RPM, dan Kecepatan angin,Selanjutnya data tersebut diolah kembali oleh perintah program arduino sehingga ketiga data tersebut bisa di simpan setiap detiknya ke SD card.

Semoga Bermanfaat

ALL IZ WELL






Sunday, 24 May 2015

Transistor adalah?

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.Transistor through-hole (dibandingkan dengan pita ukur sentimeter)Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor.Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian lainnya.
Cara Kerja SemikonduktorPada dasarnya, transistor dan tabung vakum memiliki fungsi yang serupa; keduanya mengatur jumlah aliran arus listrik.Untuk mengerti cara kerja semikonduktor, misalkan sebuah gelas berisi air murni. Jika sepasang konduktor dimasukan kedalamnya, dan diberikan tegangan DC tepat dibawah tegangan elektrolisis (sebelum air berubah menjadi Hidrogen dan Oksigen), tidak akan ada arus mengalir karena air tidak memiliki pembawa muatan (charge carriers). Sehingga, air murni dianggap sebagaiisolator. Jika sedikit garam dapur dimasukan ke dalamnya, konduksi arus akan mulai mengalir, karena sejumlah pembawa muatan bebas (mobile carriers, ion) terbentuk. Menaikan konsentrasi garam akan meningkatkan konduksi, namun tidak banyak. Garam dapur sendiri adalah non-konduktor (isolator), karena pembawa muatanya tidak bebas.Silikon murni sendiri adalah sebuah isolator, namun jika sedikit pencemar ditambahkan, seperti Arsenik, dengan sebuah proses yang dinamakan doping, dalam jumlah yang cukup kecil sehingga tidak mengacaukan tata letak kristal silikon, Arsenik akan memberikanelektron bebas dan hasilnya memungkinkan terjadinya konduksi arus listrik. Ini karena Arsenik memiliki 5 atom di orbit terluarnya, sedangkan Silikon hanya 4. Konduksi terjadi karena pembawa muatan bebas telah ditambahkan (oleh kelebihan elektron dari Arsenik). Dalam kasus ini, sebuah Silikon tipe-n (n untuk negatif, karena pembawa muatannya adalah elektron yang bermuatan negatif) telah terbentuk.Selain dari itu, silikon dapat dicampur denganBoron untuk membuat semikonduktor tipe-p. Karena Boron hanya memiliki 3 elektron di orbit paling luarnya, pembawa muatan yang baru, dinamakan "lubang" (hole, pembawa muatan positif), akan terbentuk di dalam tata letak kristal silikon.Dalam tabung hampa, pembawa muatan (elektron) akan dipancarkan oleh emisi thermionic dari sebuah katode yang dipanaskan oleh kawat filamen. Karena itu, tabung hampa tidak bisa membuat pembawa muatan positif (hole).Dapat dilihat bahwa pembawa muatan yang bermuatan sama akan saling tolak menolak, sehingga tanpa adanya gaya yang lain, pembawa-pembawa muatan ini akan terdistribusi secara merata di dalam materi semikonduktor. Namun di dalam sebuah transistor bipolar (atau diode junction) dimana sebuah semikonduktor tipe-p dan sebuah semikonduktor tipe-n dibuat dalam satu keping silikon, pembawa-pembawa muatan ini cenderung berpindah ke arah sambungan P-N tersebut (perbatasan antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n), karena tertarik oleh muatan yang berlawanan dari seberangnya.Kenaikan dari jumlah pencemar (doping level) akan meningkatkan konduktivitas dari materi semikonduktor, asalkan tata-letak kristal silikon tetap dipertahankan. Dalam sebuah transistor bipolar, daerah terminal emiter memiliki jumlah doping yang lebih besar dibandingkan dengan terminal basis. Rasio perbandingan antara doping emiter dan basis adalah satu dari banyak faktor yang menentukan sifat penguatan arus (current gain) dari transistor tersebut.Jumlah doping yang diperlukan sebuah semikonduktor adalah sangat kecil, dalam ukuran satu berbanding seratus juta, dan ini menjadi kunci dalam keberhasilan semikonduktor. Dalam sebuah metal, populasi pembawa muatan adalah sangat tinggi; satu pembawa muatan untuk setiap atom. Dalam metal, untuk mengubah metal menjadi isolator, pembawa muatan harus disapu dengan memasang suatu beda tegangan. Dalam metal, tegangan ini sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari yang mampu menghancurkannya. Namun, dalam sebuah semikonduktor hanya ada satu pembawa muatan dalam beberapa juta atom. Jumlah tegangan yang diperlukan untuk menyapu pembawa muatan dalam sejumlah besar semikonduktor dapat dicapai dengan mudah. Dengan kata lain, listrik di dalam metal adalah inkompresible (tidak bisa dimampatkan), seperti fluida. Sedangkan dalam semikonduktor, listrik bersifat seperti gas yang bisa dimampatkan. Semikonduktor dengan doping dapat diubah menjadi isolator, sedangkan metal tidak.Gambaran di atas menjelaskan konduksi disebabkan oleh pembawa muatan, yaitu elektron atau lubang, namun dasarnya transistor bipolar adalah aksi kegiatan dari pembawa muatan tersebut untuk menyebrangi daerah depletion zone. Depletion zone ini terbentuk karena transistor tersebut diberikan tegangan bias terbalik, oleh tegangan yang diberikan di antara basis dan emiter. Walau transistor terlihat seperti dibentuk oleh dua diode yang disambungkan, sebuah transistor sendiri tidak bisa dibuat dengan menyambungkan dua diode. Untuk membuat transistor, bagian-bagiannya harus dibuat dari sepotong kristal silikon, dengan sebuah daerah basis yang sangat tipis

Cara Kerja TransistorDari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda.Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut.FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat diubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk penjelasan yang lebih lanjut.

Jenis-jenis Transistor
BJT symbol PNP.svgPNPJFET symbol P.pngP-channel
BJT symbol NPN.svgNPNJFET symbol N.pngN-channel
BJTJFET
Simbol Transistor dari Berbagai TipeSecara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak kategori:
  • Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide
  • Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface Mount, IC, dan lain-lain
  • Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel
  • Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power
  • Maximum frekuensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF transistor, Microwave, dan lain-lain
  • Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain
    BJT(Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor. Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua diode yang terminal positif atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis (B).Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis dapat menghasilkan perubahan arus listrik dalam jumlah besar pada terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari penggunaan transistor sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada koletor dengan arus pada basis biasanya dilambangkan dengan β atau h_{FE}. β biasanya berkisar sekitar 100 untuk transistor-transisor BJT.FETSuntingFET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan Insulated Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal Oxide Silicon(atau SemiconductorFET (MOSFET). Berbeda dengan IGFET, terminal gate dalam JFET membentuk sebuah diode dengan kanal (materi semikonduktor antara Source dan Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk sebuah diode antara grid dankatode. Dan juga, keduanya (JFET dan tabung vakum) bekerja di "depletion mode", keduanya memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya menghantarkan arus listrik dibawah kontrol tegangan input.
FET lebih jauh lagi dibagi menjadi tipeenhancement mode dan depletion mode. Mode menandakan polaritas dari tegangan gate dibandingkan dengan source saat FET menghantarkan listrik. Jika kita ambil N-channel FET sebagai contoh: dalam depletion mode, gate adalah negatif dibandingkan dengan source, sedangkan dalam enhancement mode, gate adalah positif. Untuk kedua mode, jika tegangan gate dibuat lebih positif, aliran arus di antara source dan drain akan meningkat. Untuk P-channel FET, polaritas-polaritas semua dibalik. Sebagian besar IGFET adalah tipe enhancement mode, dan hampir semua JFET adalah tipe depletion mode.
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Transistor
ALL IZ WELL